SELAMAT DATANG DI BLOG HERBAMAED INDONESIA

HERBAMAED INDONESIA hadir untuk memberikan informasi manfaat tanaman obat/ Herbal khususnya Herbal Indonesia untuk kesehatan. Selain memberikan informasi herbal, HERBAMAED INDONESIA juga menyediakan berbagai macam herbal yang sudah dalam bentuk ektrak dan dikemas dalam bentuk kapsul sehingga memudahkan untuk mengkonsumsinya. Bagi yang berminat untuk memanfaatkan herbal dan konsultasi pengobatan herbal bisa contact : rsmjakarta@gmail.com atau dessysartika@gmail.com / 08988059632
Tampilkan postingan dengan label Gagal Ginjal. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Gagal Ginjal. Tampilkan semua postingan

Kamis, 31 Maret 2011

Obat-obatan yang Bisa Merusak Ginjal


img
(Foto: thinkstock)
Jakarta, Jika Anda sering merasa pusing, sakit kepala atau nyeri pinggang, sebaiknya jangan sembarangan minum obat-obatan yang bebas dijual di pasaran, karena beberapa jenis obat dapat merusak fungsi ginjal. Obat apa saja?

"Jangan sembarangan minum obat, apalagi kalau Anda orang yang memiliki risiko tinggi mengalamipenyakit ginjal. Beberapa obat bersifat nefrotoksik atau mengganggu fungsi ginjal," jelas dr. Dharmeizar, SpPD-KGH dari Divisi Ginjal-Hipertensi, Departemen Ilmu Penyakit Dalam RSCM, disela-sela acara Temu Media 'Pentingnya Kontrol Tekanan Darah pada Pasien Penyakit Ginjal Kronik' di Bebek Bengil Resto, Jakarta, Senin (21/3/2011).

Berikut beberapa obat-obatan yang nefrotoksik alias merusak ginjal seperti disampaikan oleh dr. Dharmeizar, yaitu:


  1. Aminoglikosid
  2. AINS (Anti Inflamasi Non-Steroid)
  3. Zat kontras radiografi
  4. Analgetik (obat penghilang rasa sakit)
  5. Beberapa jamu pegal linu dan rematik
  6. Beberapa jamu pelangsing

"Obat-obatan analgetik atau pain killer punya efek langsung terhadap ginjal, yang menyebabkan kerusakan langsung. Jadi jangan sembarangan minum obat pain killer," jelas dr. Dharmeizar.

dr. Dharmeizar juga menjelaskan bahwa jangan sembarangan minum obat bila merasakan sakit kepala atau pusing, juga bila tidak perlu sebaiknya hindari minum vitamin berlebihan.

"Sakit kepala itu kan penyebabnya banyak, bisa sakit gigi, minus mata bertambah, jadi jangan sedikit-sedikit minum obat tapi dicari penyebabnya," jelasnya.

Dan mengenai vitamin, dr. Dharmeizar menjelaskan bahwa vitamin sebaiknya hanya diberikan kepada orang yang baru saja sembuh dari sakit atau karena kekebalan tubuhnya rendah.

"Kalau Anda makan 3 kali sehari dengan cukup karbohidrat, mineral, serat dan kandungan nutrisi lainnya, maka sebenarnya vitamin itu tidak perlu. Kandungan vitamin kan sudah ada di makanan," jelas dr. Dharmeizar.

Dan dr. Dharmeizar juga mengingatkan, banyak orang yang salah kaprah tentang obat yang diharus di minum seumur hidup oleh penderita hipertensi (tekanan darah tinggi) dan kolesterol. Menurutnya, obat-obat yang digunakan untuk seumur hidup malah aman karena tidak bersifat nefrotoksik alias tidak merusak ginjal.

"Banyak orang yang salah kaprah, banyak pasien hipertensi atau kolesterol tinggi yang takut minum obat karena takut obatnya dapat merusak ginjal. Padahal sebenarnya obat yang diberikan itu aman untuk ginjal, justru kalau mereka tidak minum itu yang merusak ginjal adalah hipertensinya itu sendiri," jelas dr. Dharmeizar.



Sumber : http://health.detik.com/read/2011/03/21/164031/1597683/763/obat-obatan-yang-bisa-merusak-ginjal?ld991107763

Minggu, 20 Maret 2011

Punya Bakat Batu Ginjal? Cegah dengan Minum 3 Liter Air/hari


img
(Foto: thinkstock)
Jakarta, Penyakit batu ginjal sulit dideteksi. Penyakit ini juga sebagian besar diturunkan sehingga ada orang yang memang punya bakat batu ginjal.

Orang yang punya bakat batu ginjal harus memperhatikan konsumsi air minumnya. Orang yang punya batu ginjal atau bakat batu ginjal diusahakan volume urinenya 2 liter dalam 24 jam sehingga ia dianjurkan minum 3 liter air per hari.

Orang yang bakat batu ginjal baru tahu penyakitnya muncul biasanya setelah mengalami rasa nyeri di perut bawah. Gejala lain antara lain nyeri punggung, mual, muntah, perut menggelembung, demam, menggiggil, dan ada darah di dalam air kemih.

"Penyakit ginjal itu sebagian besar diturunkan, jadi ada orang yang berbakat batu ginjal dan ada juga yang tidak. Kalau salah satu orangtuanya ada yang terkena batu ginjal, maka anaknya memiliki bakat batu," ujar Dr dr Parlindungan Siregar, SpPD-KGH dari divisi ginjal hipertensi, Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI dalam acara konferensi pers Hydration and Health di Hotel Gran Sahid Jaya seperti ditulis Minggu (20/3/2011).

Dr Parlindungan menuturkan bagi orang yang ada batu ginjal atau memiliki bakat batu ginjal diusahakan volume urinnya sebanyak 2 liter dalam waktu 24 jam. Untuk itu ia dianjurkan untuk minum 3 liter air setiap hari. Tapi dengan catatan fungsi ginjal yang dimilikinya harus normal.

Sedangkan jika seseorang diketahui memiliki gangguan pada fungsi ginjalnya baik itu gangguan ginjal akut atau gangguan ginjal kronik stadium 4 dan 5, maka asupan air yang dikonsumsi harus dibatasi.

Untuk orang dengan gangguan ginjal, asupan cairannya sebanyak volume urin yang dikeluarkan dalam waktu 24 jam ditambah 500 ml. Misalnya volume urin yang dikeluarkan sebanyak 500 ml, maka asupan cairannya adalah 500 ml + 500 ml = 1.000 ml atau 1 liter sehari.

Selain itu, orang yang memiliki bakat batu ginjal sebaiknya menghindari konsumsi alkohol, karena kadar purin yang terkandung dalam alkohol terbilang tinggi sehingga bisa menjadi pencetus batu ginjal.

Mengenai kabar yang beredar bahwa orang harus banyak minum agar ginjalnya tidak rusak, menurut Dr Parlindungan tidaklah terlalu tepat. Dr Parlindungan mengungkapkan bahwa kabar tersebut ada benarnya tapi ada juga salahnya.

"Kalau orang punya fungsi ginjal normal, maka kekurangan cairan sedikit tidak menimbulkan gangguan ginjal. Kalau kekurangan 3 persen cairan hanya mengalami gangguan kognitif," ungkapnya.

Tapi kalau kekurangan cairannya luar biasa hingga 10-15 persen bisa menyebabkan gangguan ginjal, misalnya seseorang yang mengalami diare atau muntaber dan tidak tertangani dengan baik bisa menyebabkan gangguan ginjal akut.

"Tubuh kita ini pintar, dia tahu kapan kita butuh air dan kapan tidak. Sebaiknya konsumsi air dengan cukup dalam arti tidak boleh kurang dan juga tidak boleh berlebih," ujar dokter kelahiran Medan 60 tahun silam.



Sumber : health.detik.com

Pasien Gagal Ginjal Masih Bisa Aktif Bekerja



img
Ketut dan istri (Foto: Merry)
Jakarta, Gagal ginjal bukan akhir dari segalanya. Dengan gagal ginjal, seseorang masih tetap bisa melakukan aktivitas rutin seperti biasa, hanya saja perlu suatu tindakan terapi pengganti ginjal.

Untuk dapat tetap aktif dan bekerja, pasien gagal ginjal perlu melakukan suatu tindakan terapi pengganti ginjal agar ginjal dapat berfungsi dengan baik, tetapi biaya yang dibutuhkan untuk terapi tersebut memang cukup mahal.

Salah satu pasien yang bisa tetap aktif bekerja meski telah divonis gagal ginjal sejak 14 tahun yang lalu adalah I Ketut Nesa Sumarbwa (45 tahun).

Ketut divonis menderita gagal ginjal sejak 19 Mei 1996. Ketut tidak memiliki faktor risiko penyakit ginjal seperti hipertensi, diabetes dan juga tidak merokok.

"Awalnya saya hanya mual-mual dan pada waktu itu dokter kantor bilang kalau saya maag," kenang Ketut saat ditemui pada acara Konferensi Pers Hari Ginjal Sedunia 'Protect Your Kidney Save Your Heart' di Gedung Ziebart PT Kalbe Farma, Jakarta, Kamis (10/3/2011).

Ketut tak pernah curiga dirinya menderita gagal ginjal. Ia mengikuti petunjuk dokter yang memberinya berbagai obat selama 3 bulan.

Tapi setelah 3 bulan tersebut, kondisinya makin melemah, hemoglobin rendah dan bawaannya selalu marah.

Ia akhirnya pindah rumah sakit. Ia sempat dirawat seminggu tetapi dokter belum mau memberi tahu kondisi sebenarnya.

"Setelah 2 minggu tubuh saya bengkak, semua badan bengkak. Dan setelah 1 minggu saya pindah ke RS St Carolus, 1 minggu berobat jalan dan minggu kedua dirawat," lanjut Ketut yang masih aktif bekerja sebagai Tata Usaha di TASPEN.

Setelah dirawat 1 minggu itulah dokter memvonisnya gagal ginjal dan harus segera hemodialisis (cuci darah).

"Akhirnya dari tahun 1997 sampai sekarang saya rutin cuci darah 2 kali seminggu. 1 kali cuci darah bisa habis Rp 700.000 di luar obat, kalau ditambah obat bisa sampai sekitar Rp 1.000.000," jelas Ketut yang lahir pada 24 April 1966.

Menurutnya, bila tidak melakukan hemodialisis (HD) tubuhnya akan terasa sesak yang luar biasa.

Ketut yang masih tampak bugar dan bersemangat menuturkan, ia tidak memiliki faktor risiko mengalamipenyakit ginjal. Ia juga tidak merokok dan rajin olahraga.

Menurut dokter, ginjalnya mengalami pengecilan karena adanya peradangan pada glomerulus (penyakitglomerular).

"Tadinya saya sempat shock dan drop, karena waktu itu umur saya masih 31 tahun dan anak saya masih umur 2 tahun. Tapi karena istri saya selalu memberi semangat dan dukungan dari keluarga, saya juga jadi semangat," jelas Ketut.

Sejak tahun 1997 hingga sekarang, Ketut harus rutin melakukan hemodialisis 2 minggu sekali, yaitu hari Senin dan Kamis.

Dia juga mengaku masih aktif bekerja sebagai TU di kantor TASPEN yang bertugas menerima dan mengirimkan surat.

Gagal ginjal tak menghalangi aktivitasnya, ia masih tetap bersemangat bekerja, bahkan masih bisa jalan-jalan keluar kota seperti di Bali dan Solo.

"Saya masih tetap bekerja hingga sekarang," jelas Ketut.

Masalah biaya, ia mengaku sangat terbantu dengan asuransi kesehatan yang diberikan oleh kantornya.

"Untungnya, semua biaya untuk cuci darah ini 100 persen ditanggung oleh kantor (TASPEN), jadi kami hanya memikirkan ongkos buat bolak balik rumah sakit saja," jelas Niluh, istri Ketut.

dr Tunggul D Situmorang, SpPD.KGH, Direktur RS PGI Cikini dan juga ahli ginjal menuturkan bahwa terapi pengganti ginjal seperti hemodialisis bisa memperpanjang harapan hidup pasien, bahkan hingga 35 tahun.

"Dialisis itu adalah peluang dan peluang itu harus diraih. Penuh tantangan memang iya, karena biayanya yang mahal. Tapi ini bisa membuat pasien gagal ginjal tetap aktif bahkan bekerja. Orang boleh kena gagal ginjal, tapi jangan gagal hidup. Kebanyakan sekarang orang yang divonis penyakit ginjal malah perginya ke 'orang pintar', tapi bukan dokter," jelas dr Tunggul.

Untuk membantu pasien gagal ginjal, sampai saat ini hanya ada 3 macam terapi pengganti ginjal, yaitu:

  1. Hemodialisis (HD) atau dikenal dengan cuci darah
  2. Dialisis Peritoneal (atau cuci darah lewat perut)
  3. Transplantasi atau cangkok ginjal

Berikut rincian biaya untuk masing-masing terapi pengganti ginjal:

BiayaTransplantasiHemodialisis (HD)Dialisis Peritoneal
Non AskesAskesNon AskesAskes
Awal200-500 juta2,3 juta02,3 juta0
Per bulan6-7 juta5-6 juta120-480 ribu5-6 juta1 juta


Sumber : www.health.detik.com

Pasien Gagal Ginjal Bisa Cuci Darah Sendiri di Rumah



img
CAPD system (dok. nephrocare)
Jakarta, Selama ini untuk mengobati pasien yang divonis dengan gagal ginjal, orang lebih mengenal hemodialisis atau cuci darah yang harus dilakukan di rumah sakit. Padahal ada pengobatan lain yang bisa dilakukan di rumah oleh pasien sendiri, sehingga dapat menghemat waktu.

Gagal ginjal merupakan tahap akhir dari penyakit ginjal dimana fungsi ginjal sudah kurang dari 15 persen. Pada tahap ini, jalan satu-satunya untuk memperpanjang harapan hidup pasien adalah dengan terapi pengganti ginjal.

Sampai saat ini hanya ada 3 macam terapi pengganti ginjal, yaitu:

  1. Hemodialisis (HD)
  2. Dialisis Peritoneal (atau cuci darah lewat perut) atau Continuos Ambulatory Peritoneal Dialysis (CAPD)
  3. Transplantasi atau cangkok ginjal

"Idealnya memang transplantasi, tapi biayanya mahal dan mencari donor tidak gampang. Yang sekarang paling banyak dilakukan pasien gagal ginjal adalah dialisis atau hemodialisis. Tapi sebenarnya secara medis lebih baik CAPD (Continuos Ambulatory Peritoneal Dialysis) yang bisa dilakukan sendiri di rumah atau di kantor," jelas dr Tunggul D Situmorang, SpPD.KGH, Direktur RS PGI Cikini, pada acara Konferensi Pers Hari Ginjal Sedunia 'Protect Your Kidney Save Your Heart' di Gedung Ziebart PT Kalbe Farma, Jakarta, Kamis (10/3/2011).

Hemodialisis (HD) adalah suatu tindakan yang dilakukan di rumah sakit 2-3 kali seminggu untuk membersihkan racun-racun dan mengeluarkan cairan yang berlebihan dari dalam tubuh (mengingat ginjal alami sudah tidak mampu melakukan fungsinya dengan baik).

Tiap kali HD diperlukan waktu sekitar 4-5 jam. Pada tangan pasien akan dibuat suatu akses yang disebut Simino untuk mengalirkan darah yang kotor ke mesin dialisis dan mengembalikan darah yang sudah bersih ke dalam tubuh. Mesin digunakan untuk membersihkan darah dari zat-zat racun tersebut.

Sedangkan Dialisis Peritoneal (atau cuci darah lewat perut) yang banyak dipakai saat ini adalah Continuos Ambulatory Peritoneal Dialysis (CAPD) adalah suatu tindakan yang dilakukan sendiri oleh pasien di rumah 3-4 kali per hari untuk membersihkan racun-racun dan mengeluarkan cairan yang berlebihan dari dalam tubuh.

Tiap kali CAPD diperlukan waktu sekitar 30 menit dan perut pasien akan dipasang sebuah kateter untuk mengeluarkan cairan dan racun dari dalam tubuh. Di sini yang berfungsi sebagai filter atau saringannya adalah selaput rongga perut.

"Secara medis dan secara biaya lebih baik CAPD. Ini sudah mulai banyak dilakukan di Hongkong, Thailand, Taiwan. Kalau di Indonesia ini bisa sangat baik, karena tidak semua rumah sakit bisa melayani hemodialisis. CAPD bahkan bisa dilakukan di desa-desa oleh pasien sendiri," jelas dr Tunggul.

Berikut beberapa keunggulan CAPD dibandingkan HD yang disampaikan oleh dr Tunggul, yaitu:

  1. Fungsi ginjal yang tersisa masih bisa diselamatkan
  2. Zat-zat racun dalam tubuh bisa dikeluarkan
  3. Tidak menambahkan beban jantung sehingga dapat dilakukan oleh siapa saja, termasuk pasien lansia
  4. Menggunakan 24 jam proses alami tubuh
  5. Dapat dilakukan sendiri di rumah atau tempat kerja tanpa harus ke rumah sakit, serta bisa dipesan dan diantar ke rumah.
  6. Kadar hemoglobin lebih tinggi sehingga dapat meningkatkan kualitas hidup
  7. Risiko mendapatkan hepatitis lebih kecil
  8. Lebih ekonomis secara biaya

Selain itu, menurut dr Tunggul, CAPD cenderung lebih sedikit kontraindikasinya dibandingkan dengan hemodialisis. Yang paling sering terjadi adalah infeksi karena pasien tidak mematuhi aturan kebersihan sebelum pemasangan.

Sayangnya, terapi pengganti ginjal ini kurang populer dibandingkan dengan hemodialisis.

"Kenapa tidak sepopuler HD, karena HD diperkenalkan lebih dulu. Dari hasil survey, pasien gagal ginjal yang menjalani HD hanya 30 persen yang mengenal CAPD. Padahal kalau di Thailand, pasien gagal ginjal harus CAPD dulu baru HD, kecuali bila mengalami kondisi tertentu," lanjut dr Tunggul.

Menurut dr Tunggul, pasien gagal ginjal yang tidak boleh menjalani CAPD adalah pasien yang usai menjalani pembedahan di daerah perut dan pasien yang mengalami gangguan di bagian kulit perut, karena hal ini bisa meningkatkan risiko infeksi.

"Masalah harga tergantung yang diresepkan dokter, ada yang 3 kali atau 4 kali sehari. Kalau yang 4 kali sehari biayanya bisa mencapai 6,5 juta per bulan untuk non Askes, kalau Askes bisa ditanggung 100 persen," jelas dr Natalia Erlan, Marketing Manajer PT Kalbe Farma Tbk.

Sebelum pemasangan CAPD system, pasien gagal ginjal akan dilatih untuk beberapa hari cara pemasangan yang benar, yaitu dengan mematuhi beberapa aturan sebelum pemasangan, seperti:

  1. Cuci tangan sebelum memasang CAPD system
  2. Menggunakan masker untuk menutup mulut
  3. Menjaga kebersihan lingkungan ruangan sekitar sebelum pemasangan CAPD system.

"CAPD diharapkan dapat membuat pasien gagal ginjal lebih mandiri dan bertanggungjawab," tutup dr Erlan.


Sumber : www.health.detik.com