SELAMAT DATANG DI BLOG HERBAMAED INDONESIA

HERBAMAED INDONESIA hadir untuk memberikan informasi manfaat tanaman obat/ Herbal khususnya Herbal Indonesia untuk kesehatan. Selain memberikan informasi herbal, HERBAMAED INDONESIA juga menyediakan berbagai macam herbal yang sudah dalam bentuk ektrak dan dikemas dalam bentuk kapsul sehingga memudahkan untuk mengkonsumsinya. Bagi yang berminat untuk memanfaatkan herbal dan konsultasi pengobatan herbal bisa contact : rsmjakarta@gmail.com atau dessysartika@gmail.com / 08988059632
Tampilkan postingan dengan label Bahaya Rokok. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bahaya Rokok. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 05 Februari 2011

Alasan-alasan Orang Tak Mau Berhenti Merokok


img
(Foto: thinkstock)
Jakarta, Hampir sebagian besar orang tahu bahwa merokok bisa membahayakan kesehatan dirinya sendiri dan juga orang lain, tapi tak sedikit orang yang tetap membandel. Ini dia alasan-alasan orang tetap bandel merokok.

"Dari hulu sampai hilir rokok semuanya mengandung racun, dan dalam jangka panjang penyakit-penyakit yang diakibatkannya ini bisa sangat menghabiskan uang," ujar Dr Sally Aman Nasution, SpPD-KKV, FINASIM dalam acara konferensi pers PAPDI mengenai rokok di Sekretariat PB PAPDI, Cikini, Jakarta, Jumat (4/2/2011).

Dr Sally menuturkan ada kasus seorang laki-laki berusia 80-an tahun mengantarkan anaknya yang terkena penyakit jantung. Laki-laki tersebut diketahui sebagai perokok dan ia sering berkelit bahwa ia saja yang merokok tidak penyakit jantung dan merasa sehat-sehat saja.

"Tapi tidak semua orang seberuntung orang tersebut, mungkin sekarang ia tidak kena serangan jantung tapi kita tidak tahu bagaimana nantinya," ungkap wakil Sekjen PB PAPDI (Perhimpunan Dokter Penyakit Dalam Indonesia).

Beberapa alasan kerap dilontarkan oleh para perokok agar tetap bisa melakukan aktivitas tersebut. Alasan yang diungkapkan oleh para perokok biasanya:

  1. Ia menganggap dirinya sehat-sehat saja
  2. Tidak terkena serangan atau penyakit jantung meskipun ia aktif merokok
  3. Merokok atau pun tidak merokok ia tetap akan meninggal juga

"Faktor risiko penyakit jantung itu multifaktorial dan salah satunya adalah perokok. Beberapa faktor risiko diketahui bisa dimodifikasi atau diubah seperti pola hidup dan merokok sedangkan faktor risiko lainnya tidak bisa dimodifikasi seperti jenis kelamin dan juga genetik," ungkap Dr Sally.

Dr Sally juga mengungkapkan ada beberapa pasien yang sudah melakukan operasi jantung by pass atau terkena serangan jantung tapi masih tetap merokok. Padahal risiko ia terkena serangan jantung lagi akan semakin meningkat dan kemungkinan serangan yang terjadi akan jauh lebih fatal.

Karenanya untuk orang yang sudah pernah kena serangan jantung hal pertama yang harus dilakukannya adalah berhenti merokok, hal ini juga berlaku untuk orang yabng pernah terkena stroke.

Sementara Dr H Ari Fahrial Syam SpPD-KGEH, MMB, FINASIM menuturkan rokok juga bisa meningkatkan 2-3 kali lipat risiko kanker pankreas, meningkatkan 2 kali lipat risiko kanker usus besar, meningkatkan risiko kanker esofagus (kerongkongan) dan juga membuat penyakit maag nya tidak sembuh-sembuh. Kanker paru juga faktor dominannya disebabkan oleh kebiasaan merokok.

"Kalau sudah adiksi atau ketagihan memang susah untuk berhenti merokok, kecuali ada kesadaran dari dirinya sendiri untuk berhenti merokok atau bisa juga karena sudah kapok," ujarnya.

Ada beberapa hal yang bisa dilakukan seseorang untuk berhenti merokok yaitu tidak mengenal istilah mengulang rokok, menjauhkan semua hal yang berhubungan dengan rokok misalnya asbak atau barang lainnya dan yang pasti harus tahan godaan.



Sumber : http://health.detik.com/read/2011/02/04/174358/1560428/763/alasan-alasan-orang-tak-mau-berhenti-merokok?l991101755

82 Juta Penduduk Indonesia Jadi Perokok Aktif


img
(Foto: thinkstock)
Jakarta, Indonesia menempati urutan ketiga di dunia dengan jumlah perokok terbanyak setelah China dan India. Berdasarkan data Riskesdas 2010 diketahui sekitar 34,7 persen penduduk Indonesia menjadi perokok aktif yang kebanyakan berpendidikan rendah. 

Jika penduduk Indonesia pada tahun 2010 mencapai 237,56 juta, itu ada sekitar 82 juta penduduk yang merokok secara aktif dan kebanyakan ada di pedesaan. 

Berdasarkan data Riskesdas (Riset kesehatan dasar) 2010 diketahui prevalensi merokok di Indonesia mencapai 34,7 persen dengan jumlah paling tinggi terjadi pada kelompok usia 25-64 tahun. 

Sebagian besar perokok Indonesia menurut Dr H Ari Fahrial Syam SpPD-KGEH, MMB, FINASIM kebanyakan adalah penduduk yang tinggal di pedesaan, tingkat pendidikan rendah, pekerja informal dan juga status ekonomi rendah. 

"Ini berarti perokok kebanyakan adalah penduduk dengan penghasilan terbatas dan pengetahuan tentang kesehatan yang rendah," ujar Dr Ari dalam acara konferensi pers PAPDI mengenai rokok di Sekretariat PB PAPDI, Cikini, Jakarta, Jumat (4/2/2011). 

Dr Ari juga menuturkan terjadi peningkatan jumlah dalam hal usia pertama kali orang merokok. Pada tahun 1995 perokok usia 5-9 tahun sebanyak 0,3 persen, tahun 2007 menjadi 2 persen dan tahun 2010 ini diketahui meningkat menjadi 2,2 persen. 

"Diperlukan penelitian lebih lanjut kenapa di usia tersebut anak sudah mulai merokok, karena umumnya ia masih berada dalam tahap melihat dan bukan mencoba," ujar dokter yang menjabat sebagai ketua bidang advokasi PB PAPDI (Perhimpunan Dokter Penyakit Dalam Indonesia). 

Ada beberapa hal yang mungkin menyebabkan seseorang mulai merokok di usia tersebut seperti melihat orang-orang disekitarnya, tapi tidak ada orang yang berusaha untuk mencegah atau akibat pengaruh iklan rokok yang dilihatnya. 

"Semakin dini seseorang mulai merokok maka proses penumpukan plak di pembuluh darahnya akan menjadi lebih cepat, sehingga risiko ia terkena penyakit jantung menjadi lebih dini lagi," ujar Dr Sally Aman Nasution, SpPD-KKV, FINASIM. 

Selain itu didapatkan data bahwa lebih dari 75 persen perokok di semua kelompok usia ternyata merokok di dalam rumah yang berarti berada di dalam ruang tertutup, dengan begitu orang yang tidak merokok bisa mendapatkan dampak langsungnya. 

"Padahal risiko perokok pasif tidak jauh beda dengan perokok aktif, karena itu bagi orang yang merokok sebaiknya jangan egois," ungkap Dr Sally.



Sumber : http://health.detik.com/read/2011/02/04/170722/1560386/763/82-juta-penduduk-indonesia-jadi-perokok-aktif?l991101755

Senin, 24 Januari 2011

1 dari 3 Kasus Rematik Parah Dipicu oleh Rokok


img 
foto: Thinkstock
Stockholm, Mengupas bahaya rokok bagi kesehatan seakan tak pernah ada habisnya. Baru-baru ini terungkap bahwa 1 dari 3 kasus rheumatoid arthritis parah merupakan dampak dari kebiasaan merokok selama bertahun-tahun.

Rheumatoid arthritis (RA) merupakan peradangan sendi yang ditandai dengan nyeri dan pembengkakan di bagian tersebut. Kondisi yang berhubungan dengan sistem imun ini lebih banyak menyerang perempuan dibandingkan laki-laki dan sering terjadi pada usia 40-60 tahun.

Secara genetik, beberapa orang punya faktor risiko untuk mengalami RA hingga kondisi yang sangat parah. Faktor tersebut adalah pembentukan sejenis antibodi bernamaanticitrullinated protein/peptide antibody (ACPA) pada orang-orang yang memiliki gen tertentu.

Sebuah penelitian oleh para ahli dari Karolinska Institute di Stockholm mengungkap, pembentukan ACPA bisa meningkat jika seseorang punya kebiasan merokok. Peningkatan risikonya mencapai 35 persen dibandingkan yang sama-sama memiliki faktor risiko tersebut namun tidak merokok.

Artinya 35 persen atau kurang lebih 1 dari 3 kasus RA parah yang dipicu oleh ACPA terjadi akibat kebiasaan merokok. Dalam penelitian tersebut, partisipan rata-rata memiliki kebiasaan merokok sebanyak 20 batang sehari selama lebih dari 20 tahun.

"Tidak banyak yang bisa kita lakukan untuk mencegah RA yang dipicu oleh faktor genetik, namun faktor lain bisa kita ubah. Berhenti merokok adalah salah satunya," ungkap Jane Tadman dari Arthritis Research di Inggris, seperti dikutip dari Telegraph, Selasa (14/12/2010).

Hasil penelitian tersebut juga mengatakan peningkatan risiko itu akan hilang begitu seseorang menghentikan kebiasaan merokoknya. Tidak perlu bertahun-tahun, efeknya sidah bisa dirasakan tidak lama setelah berhasil menghindari asap rokok.

Penelitian tersebut dipublikasikan hari ini dalam sebuah jurnal online di Inggris, Annals of the Rheumatic Diseases.





Sumber : http://health.detik.com/read/2010/12/14/170359/1524642/763/1-dari-3-kasus-rematik-parah-dipicu-oleh-rokok?ld991107763

Tika, Gadis Manis yang Meninggal Karena Jadi Perokok Pasif


img
Noor Atika Hasanah (dok. pribadi)
Jakarta, 'Bagi para ortu perokok, aku mohon banget supaya ngerokok sejauuuh mungkin dari anaknya walau sampai anak dewasa supaya jauh dari kemungkinan terkena flek paru'.

Begitulah tulisan Noor Atika Hasanah dalam statusnya di Facebook dan Twitter, tiga hari sebelum kematiannya yang mengagetkan rekan-rekannya di jejaring sosial.

Bagaimana teman-temannya tidak kaget, karena 10 jam yang lalu, perempuan kelahiran 8 November 1982 itu masih sempat membuat status di Twitter dan Facebook.

Dalam status Facebook dan akun Twitternya @tikuyuz, perempuan yang oleh teman-temannya disapa Tika ini menulis status terakhirnya, bahwa ia sudah satu malam berada di RS Sulianti Saroso Sunter dan sedang menunggu hasil infeksinya.

Namun tiba-tiba pada Kamis 30 Desember 2010 pukul 14.00 WIB, dikabarkan perempuan manis tersebut telah meninggal dunia.

Tika adalah salah satu korban yang meninggal akibat perokok pasif. Dalam status-statusnya Tika menegaskan dia tidak merokok tapi dia adalah korban dari asap si perokok.

Dia menulis dirinya terkena flek paru dan divonis dokter menderita Bronchopneumonia Duplex. Meski sudah divonis menderita penyakit paru parah, dia mengaku tidak menyerah dengan penyakit ini.

"Well, hello Bronchopneumonia Duplex! I'm not afraid of you :))," kata Tika dalam status Twitternya pada 24 Desember 2010.

Akibat penyakitnya ini Tika mengaku berat badannya melorot hingga 35 Kg padahal normal berat badannya 42 Kg. Penyakit ini telah membuatnya sering mengalami sesak napas, batuk keras dan pilek.

Kematian Tika kembali menyadarkan orang betapa bahayanya efek merokok walaupun kita bukan perokok. Sudah tak terhitung berapa banyak korban sakit paru-paru dari orang yang bukan perokok. Terperangkap dalam lingkaran para perokok, membuat si perokok pasif punya potensi 30 persen terkena penyakit mematikan mulai dari flek paru hingga kanker paru-paru.

Perokok pasif biasanya menghirup asap yang berasal dari pembakaran rokok dan juga asap yang dikeluarkan oleh seorang perokok aktif. Menjadi perokok pasif sebenarnya tanpa disadari telah membuat seseoran menjadi perokok. Biasanya perokok pasif ini berada di rumah, mobil, tempat kerja dan tempat-tempat umum lainnya seperti bar.

Untuk melihat seberapa besar perokok pasif terpapar asap rokok dapat diuji dengan mengukur kadar nikotin, cotinine dan karbon monoksida dalam darah, air liur atau urinnya. Cotinine ini adalah suatu hasil produk metabolisme nikotin dalam tubuh.

Didapatkan lebih dari 4.000 zat kimia yang terdapat dalam asap rokok. Sedikitnya 250 zat berbahaya dan 50 diantaranya menyebabkan kanker terkandung dalam sebatang rokok.

Zat kimia tersebut seperti arsenik (logam berat beracun), benzene (bahan kimia dalam bensin), beryllium (logam beracun), kadmium (logam yang digunakan untuk baterai), etilen oksida (bahan kimia untuk mensterilkan alat medis), vinil klorida (zat toksik untuk membuat plastik) dan zat lainnya.

Dilansir dari National Cancer Institute, badan internasional untuk penelitian kanker (IARC) telah mengklasifikasikan asap rokok pada manusia sebagai karsinogen (zat penyebab kanker). Karenanya orang yang tidak merokok tapi sering menghirup asap rokok juga memiliki kemungkinan terkena kanker paru.

Diperkirakan orang yang menjadi perokok pasif berpeluang terkena kanker paru-paru 20 sampai 30 persen. Tapi jika perokok pasif tersebut tinggal bersama dengan seorang perokok aktif maka peluangnya menjadi lebih besar. Karena ada kemungkinan orang tersebut terpapar asap rokok setiap harinya, sehingga akumulasi dari zat-zat kimia tersebut semakin besar.

Beberapa penelitian lain menunjukkan asap rokok tak hanya menimbulkan kanker paru-paru saja, tapi juga kanker payudara, kanker rongga sinus hidung, leukimia, limfoma dan tumor otak pada anak-anak. Tapi masih diperlukan penelitian lebih lanjut untuk hubungannya dengan kanker-kanker ini.

Paparan dari asap rokok ini bisa mengiritasi saluran udara dan memiliki efek bahaya langsung terhadap jantung dan pembuluh darah. Di Amerika Serikat sendiri perokok pasif telah menyebabkan penyakit jantung sebesar 46.000 setiap tahunnya.

Jika Anda seorang perokok pasif dan tidak ingin terkena kanker paru-paru, sebaiknya hindari tempat-tempat yang memiliki asap rokok serta cobalah untuk tidak terlalu dekat dengan perokok. Selain itu, perbanyak makanan yang mengandung antioksidan dan terapkan pola hidup sehat. Dan buat para perokok menjauhlah agar orang-orang terdekat Anda tidak menjadi korban.





Sumber : http://health.detik.com/read/2010/12/30/163822/1536216/763/tika-gadis-manis-yang-meninggal-karena-jadi-perokok-pasif?ld991107763

Rokok Merusak Tubuh Dalam Hitungan Menit


img
(Foto: thinkstock)
Minnesota, Selama ini masyarakat mengira rokok merusak tubuh dalam jangka waktu panjang. Tapi peneliti mengungkapkan bahwa kerusakan genetik akibat rokok terjadi dalam hitungan menit setelah seseorang menghisap rokok.

Para ilmuwan menemukan bahwa bahan kimia penyebab kanker dalam tembakau terbentuk dengan cepat setelah seseorang menghisap rokok pertamanya. Hal ini menjadi gambaran peringatan keras bagi orang yang mulai tergoda untuk mencoba rokok.

Dr Stephen Hecht dari University of Minnesota yang memimpin studi ini mempelajari tingkat senyawa berbahaya yang dikenal sebagai polisiklik hidrokarbon aromatik (polycyclic aromatic hydrocarbons/PAH) pada 12 perokok.

PAH telah dipercaya sebagai salah satu penyebab utama kanker paru-paru. Dr Hecht dan rekan menuturkan senyawa PAH yang disebut dengan fenantrena dalam rokok cepat membentuk zat beracun dalam darah yang menyebabkan mutasi hingga memicu terjadinya kanker.

Bahkan para peneliti dibuat terkejut dengan hasil waktu yang dibutuhkan untuk menyebabkan kerusakan tersebut, hanya 15-30 menit setelah para perokok selesai menghisap rokoknya. Efek ini terbilang sangat cepat dan setara dengan menyuntikan zat tersebut langsung ke dalam aliran darah.

"Penelitian ini unik, karena untuk pertama kalinya berhasil menyelidiki metabolisme senyawa PAH khusus yang terhirup dari asap rokok tanpa ada campur tangan dari sumber PAH lainnya seperti polusi udara atau makanan," ujarnya, seperti dikutip dari Dailymail, Selasa (18/1/2011).

Dr Hecht menambahkan hasil yang dilaporkan dalam studi ini harus menjadi peringatan keras mengenai bahaya rokok terutama bagi orang-orang yang mulai mempertimbangkan untuk merokok. Studi ini dipublikasikan dalam Chemical Research in Toxicology dan menjadi salah satu dari 38 jurnal ilmiah yang diterbitkan oleh American Chemical Society.

Hasil penelitian sebelumnya juga telah menemukan bahwa sebatang rokok sudah cukup memicu serangan jantung baik bagi perokok berat atau yang hanya sekali-kali saja. Selain itu nikotin yang terkandung di dalam rokok hanya membutuhkan perjalanan selama 7 detik dari paru-paru ke otak.



Sumber : http://health.detik.com/read/2011/01/18/094623/1548871/763/rokok-merusak-tubuh-dalam-hitungan-menit?ld991107763

Apa yang Terjadi Saat Berhenti Merokok?


img
(Foto: thinkstock)
Jakarta, Untuk jangka pendek, berhenti merokok dapat menyebabkan efek positif dan negatif. Tapi efek negatif hanya sementara dan menjanjikan efek positif yang jauh lebih besar untuk jangka menengah dan jangka panjang.

Rokok dapat membunuh tetapi juga membawa membawa banyak kegembiraan pada jutaan perokok. Perokok sangat rentan terhadap penyakit mematikan seperti kanker dan penyakit jantung. Itulah sebabnya banyak kalangan medis yang sangat menganjurkan perokok untuk segera berhenti menghisap nikotin dalam rokok.

Apa saja yang terjadi ketika orang berhenti merokok?

Nikotin yang sangat adiktif dapat memicu gejala balikan (withdrawal) pada orang yang baru saja berhenti merokok, sehingga menyebabkan orang sering gagal dalam upaya berhenti merokok.

Dilansir Livestrong, Sabtu (22/1/2011), gejala withdrawalbiasanya dimulai beberapa jam setelah berhenti merokok dan dapat berlangsung selama beberapa minggu.

Withdrawal ditandai dengan perasaan mudah marah, kecemasan, depresi, pusing, kelelahan, sakit kepala, nafsu makan meningkat, kurang konsentrasi, gangguan tidur dan kenaikan berat badan.

Untuk menghilangkan gejala ini, American Cancer Society dalam laporan Guide to Quitting Smokingmenunjukkan mantan perokok untuk melakukan kegiatan yang dapat menggantikan rokok sebagai solusi untuk menghilangkan kelaparan dan stres, seperti mengunyah permen karet dan olahraga.

Ketika Anda bisa mengatasi gejala withdrawal, maka tubuh akan dapat segera merasakan manfaat dari berhenti merokok. Manfaat itu akan semakin besar saat Anda tidak merokok dalam jangka panjang.

Berhenti merokok dapat mengurangi tekanan darah dan denyut jantung dalam waktu 20 menit. Ketika berhenti merokok, Anda juga tidak lagi menghirup beberapa bahan kimia berbahaya dan senyawa dalam asap tembakau.

Karbon monoksida merusak sistem saraf, tetapi jumlah itu dalam darah kembali normal dalam waktu 12 jam setelah berhenti merokok. Manfaat lainnya yang segara bisa dirasakan adalah masalah pernapasan menjadi lebih sedikit, indra penciuman dan mengecap menjadi lebih baik, gigi lebih putih, serta napas, pakaian dan rambut menjadi tidak berbau.

Tidak merokok untuk dalam jangka waktu 1 tahun dapat memotong risiko penyakit jantung menjadi setengahnya. Dan dalam 10 tahun dapat mengurangi risiko kanker.

Berhenti merokok juga mengurangi risiko kanker kandung kemih, leher rahim, kerongkongan, pankreas mulut dan kanker tenggorokan. Penurunan risiko tersebut membuat mantan perokok hidup lebih lama dibandingkan dengan perokok.





Sumber : http://health.detik.com/read/2011/01/22/140307/1552238/763/apa-yang-terjadi-saat-berhenti-merokok?ld991107763

22 Kota dan Kabupaten Sudah Terapkan Kawasan Tanpa Rokok


img
foto: Thinkstock
Jakarta, Dari hampir 500 kabupaten/kota yang ada di Indonesia, baru ada 22 kabupaten/kota yang menerapkan Kawasan Tanpa Rokok (KTR).

Menurut data WHO, lebih dari satu miliar orang di dunia menggunakan tembakau dan menyebabkan kematian lebih dari 5 juta orang setiap tahun.

Penggunaan tembakau merupakan faktor risiko utama penyakittidak menular. Ini menunjukkan perlunya suatu kebijakan tentang lingkungan bebas asap rokok.

Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan Pasal 115 menyatakan Pemerintah Daerah wajib menerapkan Kawasan Tanpa Rokok (KTR).

Sampai saat ini baru ada 22 kabupaten/kota yang sudah mulai melaksanakan kebijakan tersebut, walaupun program ini belum seragam di seluruh kabupaten/kota.

"22 kabupaten/kota sudah punya KTR dari hampir 500 kabupaten/kota yang ada di Indonesia. Saya sangat salut pada bapak ibu yang berani menentang arus dan menjadi pelopor untuk regulasi tembakau ini," ujar Menkes Endang Rahayu Sedyaningsih dalam sambutan membuka acara Workshop Pengendalian Masalah Kesehatan Akibat Tembakau dan Penyakit Tidak Menular di Hotel Oasis Amir, Jakarta, Senin (24/1/2011).

22 kabupaten/kota yang sudah menerapkan KTR adalah sebagai berikut:
  1. Jakarta
  2. Palembang
  3. Bogor
  4. Bandung
  5. Yogyakarta
  6. Pontianak
  7. Surabaya
  8. Semarang
  9. Sragen
  10. Bangli
  11. Makassar
  12. Enrekang
  13. Lombok Timur
  14. Payakumbuh
  15. Padang Panjang
  16. Padang
  17. Bukit Tinggi
  18. Cirebon
  19. Karanganyar
  20. Pekalongan
  21. Lampung
  22. Denpasar
Menkes juga menyebutkan prevalensi merokok di Indonesia terus meningkat. Tahun 2001 berdasarkan Susenas tercatat 31,8 persen orang Indonesia merokok. Berdasarkan Riskesdas 2007, perokok usia 15 tahun ke atas sebesar 33,4 persen dan 2010 naik menjadi 34,7 persen.

Pada data tahun 2006, 6 dari 10 anak sekolah terpapar asap rokok di rumah. Bahkan 3 dari 10 pelajar pertama kali merokok di bawah usia 10 tahun.

Sedangkan data orang yang terpapar asap rokok berdasarkan Riskesdas 2010 sebesar 76,1 persen. Jumlah ini sedikit turun dibandingkan tahun 2007 yang sebesar 84,5 persen.

"Ini salah satunya karena sudah ada beberapa daerah yang sudah menerapkan KTR. Ini sudah menunjukkan perkembangan yang baik," lanjut Menkes.

Menkes mengharapkan, dengan adanya 22 pelopor kabupaten/kota yang menerapkan KTR, diharapkan dapat diikuti oleh daerah-daerah lain di seluruh Indonesia.





Sumber : http://health.detik.com/read/2011/01/24/174759/1553470/763/22-kota-dan-kabupaten-sudah-terapkan-kawasan-tanpa-rokok?l991101755

Minggu, 26 Desember 2010

Bahaya Rokok

,

setiap batang rokok akan mengoyak paru-paru anda, perlahan tapi pasti
setiap batang rokok merusak diri anda,
paru-paru terdiri dari jutaan kantung kecil (alveolus) yang berfungsi menyerap oksigen,
setiap hisapan rokok akan merobek kantung tersebut, menyebabkan sesak nafas,
paru-paru anda akan terkoyak.

Setiap batang rokok melumuri paru-paru anda dengan TAR dan Nikotin, perlahan tapi pasti
setiap batang rokok merusak diri anda,
setiap hisapan rokok, membawa lumpur padat keparu-paru anda

Setiap batang rokok beresiko pendarahan otak
stroke menyebabkan kematian atau minimal kelumpuhan
setiap batang rokok merusak diri anda,
asap rokok meningkatkan tekanan darah, menyebabkan perdarahan atau stroke
mengakibatkan kematian, kebutaan atau kelumpuhan
pada gejala ringan sebagian orang tidak merasakannya

Setiap batang rokok beresiko perdarahan mata, kebutaan adalah akibatnya
setiap batang rokok merusak diri anda,
bahan beracun pada asap rokok akan ikut aliran darah
dan akan membuat pembuluh darah mata menjadi rapuh