SELAMAT DATANG DI BLOG HERBAMAED INDONESIA

HERBAMAED INDONESIA hadir untuk memberikan informasi manfaat tanaman obat/ Herbal khususnya Herbal Indonesia untuk kesehatan. Selain memberikan informasi herbal, HERBAMAED INDONESIA juga menyediakan berbagai macam herbal yang sudah dalam bentuk ektrak dan dikemas dalam bentuk kapsul sehingga memudahkan untuk mengkonsumsinya. Bagi yang berminat untuk memanfaatkan herbal dan konsultasi pengobatan herbal bisa contact : rsmjakarta@gmail.com atau dessysartika@gmail.com / 08988059632
Tampilkan postingan dengan label Anak-Anak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Anak-Anak. Tampilkan semua postingan

Selasa, 05 April 2011

Radiasi Nuklir, Anak-Anak Paling Berisiko Kanker


(Foto: gettyimages)
(Foto: gettyimages)
RADIASI nuklir dapat mencemari rantai makanan yang bersentuhan langsung dengan manusia, salah satunya susu sapi. Anak-anak dan janin adalah kalangan yang paling berisiko terhadap kanker.

"Ledakan membuat penduduk terpapar radiasi dengan efek jangka panjang adalah kanker, seperti kanker tiroid, kanker tulang, dan leukemia. Anak-anak dan janin adalah pihak yang sangat rentan terhadap risiko ini," kata Lam Ching-wan, patolog kimia di Universitas Hong Kong, seperti dikutip dari Reuters Health, Kamis (17/3/2011).

"Untuk sebagian orang, bahkan sejumlah kecil radiasi dapat meningkatkan risiko kanker. Semakin tinggi radiasi, semakin tinggi risiko kanker," lanjut Lam yang juga anggota di American Board of Toxicologists.

Bahan radioaktif dibawa hanya dalam hitungan menit lewat tetesan air di udara. Bahan ini kemudian dapat langsung dihirup ke dalam paru-paru, dan bila disiram air lewat hujan buatan ke laut dan tanah, akhirnya bisa mencemari tanaman, kehidupan laut, dan air minum.

“Susu sapi juga sangat rentan, jika sapi makan rumput yang terpapar radiasi,” tegas Lam.

Kebanyakan ahli sepakat bahwa anak-anak yang sedang dalam masa pertumbuhan dan janin adalah pihak yang paling berisiko terhadap radiasi nuklir. Sebab, sel mereka membelah pada tingkat yang lebih cepat dibandingkan orang dewasa.

“Mereka juga mengonsumsi susu sapi lebih banyak daripada orang dewasa yang menempatkan mereka pada risiko lebih lanjut,” kata seorang ilmuwan Jepang yang merawat korban ledakan bom atom di Hiroshima.

"Sapi seperti penyedot debu, mengambil yodium radioaktif yang mendarat di padang rumput luas. Kemudian, partikel-partikel tersebut sangat mudah terkonsentrasi dan masuk ke dalam susu," lanjutnya.

“Ini seperti yang terjadi di Chernobyl, Ukraina, dan sayangnya, informasi tentang risiko ini belum diberikan kepada orangtua," jelasnya.

Penyandang Autis Punya Kemampuan Visual Luar Biasa


img
(Foto: thinkstock)
London, Orang dengan autisme ternyata mengembangkan bagian otak yang berbeda. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa bagian otak yang berhubungan dengan kemampuan visual penyandang autis berkembang sangat baik.

Hal ini dapat menjelaskan mengapa sebagian besar penyandang autis memiliki kemampuan luar biasa untuk mengingat dan menggambarkan benda-benda secara detail.

Hasil penelitian dari University of Montreal menunjukkan bahwa pada orang autis, area otak yang berhubungan dengan informasi visual yang sangat berkembang. Sedangkan area otak lainnya kurang aktif, yaitu bagian otak yang berhubungan dengan pengambilan keputusan dan perencanaan.

Para peneliti percaya bahwa temuan ini bisa mengarah pada cara-cara baru untuk membantu penyandang autis hidup dengan kondisi lebih baik.

"Misalnya, ini mungkin menunjukkan cara untuk membantu penyandang autis untuk melek huruf dengan cara yang jauh lebih alami daripada metode biasa," kata Dr Laurent Mottron dari University of Montreal, seperti dilansir BBC News, Selasa (5/4/2011).

Menurut Dr Mottron, kecenderungan orang berpikir bahwa autisme adalah suatu bentuk dis-organisasi. "Tapi di sini, apa yang kita lihat bahwa hal itu adalah re-organisasi dari otak," lanjut Dr Mottron.

Para ahli yang menangani autisme juga menganggap temuan penelitian ini sebagai hasil yang signifikan.

"Kajian ini menyoroti bahwa autisme seharusnya tidak hanya dilihat sebagai suatu kondisi dengan kesulitan perilaku, tetapi juga harus dikaitkan dengan keahlian khusus," kata Dr Christine Ecker dari Institute of Psychiatry di Kings College, London.

Menurutnya, program ini menawarkan wawasan yang unik mengenai cara penyandang autisme melihat lingkungannya dan membantu keluarga dan profesional untuk memahami sebagian dari perilaku penyandang autisme.

"Mengetahui kekuatan dan kesulitan dari seseorang dengan autisme dapat membantu untuk lebih memahami kebutuhan mereka dan membantu mereka memaksimalkan potensi mereka," Dr Ecker.

Penelitian yang telah diterbitkan dalam jurnal Human Brain Mapping ini merupakan hasil dari 15 tahun data yang mempelajari cara kerja otak autis.

Carol Povey dari National Autistic Society mengatakan penelitian ini menarik karena mulai menunjukkan mengapa orang dengan autisme sering menunjukkan satu bagian yang kuat untuk fokus dan perhatian.

"Beberapa orang dewasa dengan autisme mengembangkan cara-cara sendiri untuk mengatasi pengalaman ini, beberapa mencari tempat tenang dan tenang, sementara yang lainnya menemukan outlet kreatif, seperti seni, yang dapat membantu mereka memproses kedua informasi serta memberikan orang lain wawasan bagaimana mereka melihat dunia," jelas Povey.

Pemahaman yang lebih untuk memahami autisme mempengaruhi cara pemrosesan sensori. Semakin banyak orang dengan autisme, keluarga dan profesional dapat mengembangkan strategi untuk membuat kehidupan sehari-hari menjadi lebih mudah.



Sumber : http://health.detik.com/read/2011/04/05/112148/1608763/764/penyandang-autis-punya-kemampuan-visual-luar-biasa?l991101755

Senin, 04 April 2011

Tips cerdas untuk si Kecil yang susah mandi


img
Kucing kucingan kalau mau mandi!…

Itu dulu, kini si kecil selalu bersemangat untuk mandi, tanpa perlu repot dibujuk.

Mengahadapi tingkah polah si kecil yang memasuki usia balita memang terkadang membuat kita geleng kepala. Namun di balik keusilannya, ternyata si kecil mulai mengembangkan daya kreativitasnya. Rasa ingin tahunya yang sangat besar membuatnya kerap sibuk mengeksplorasi lingkungan sekitar. Untuk urusan kuman dan debu, tidak perlu ditanya lagi, bahkan tak jarang si kecil pun akrab dengan berbagai macam noda. Bila sudah begini biasanya saat disuruh mandi ada saja alasannya. Padahal mandi penting untuk menjaganya tetap bersih dan segar, juga baik untuk kesehatannya

Apakah Bunda juga mengalami pengalaman seperti ini dengan si kecil? Jangan patah semangat dulu Bunda, sebab masih ada cara agar si kecil menyenangi kegiatan mandi
  1. Beri pengertian pada si kecil kalau aktivitasnya saat ini akan lebih seru setelah mandi, atau bila memungkinkan bawa serta mainan yang tengah dimainkannya untuk ikut mandi
  2. Biasakan si kecil untuk mandi pada jam yang sama setiap hari. Ini penting untuk melatihnya belajar disiplin dan kesadaran dirinya
  3. Sediakan mainan seru di kamar mandi dan perlengkapan mandi lucu yang sesuai dengan karakter si kecil
  4. Jangan lupa, karena kulit si kecil berbeda dengan kulit orang dewasa, untuk itu si kecil butuh sabun khusus untuk anak seusianya, plus aroma yang sangat disukainya seperti Skin Protection Bath Jelly dari Cussons First Years Junior. Bentuk uniknya yang menyerupai jelly akan memberi pengalaman menyenangkan saat mandi, tidak hanya lembut untuk kulitnya, formula Dermaclens® nya juga memberikan perlindungan anti bakteri alami terhadap kuman
  5. Cari tau penyebab si kecil tidak mau mandi,  bila si kecil tetap menolak meski berulang kali di bujuk, ada kemungkinan si kecil sedang tidak enak badan namun belum dapat mengutarakannya secara langsung
Jadi siapa bilang kalau si kecil susah mandi, sekarang saat mandi pun bisa menjadi aktivitas rutin yang menyenangkan.


Sumber : http://health.detik.com/read/2011/03/23/154816/1599652/756/tips-cerdas-untuk-si-kecil-yang-susah-mandi?l991101755

Jumat, 01 April 2011

Migrain Pada Anak Bisa Karena Ada Lubang di Jantung


img
(Foto: thinkstock)
Utah, Orangtua sebaiknya waspada bila anaknya sering mengalami migrain atau sakit kepala sebelah. Anak-anak yang sering mengalami migrain disertai dengan gangguan penglihatan kemungkinan telah mengalami kecacatan pada jantung.

Hal ini berdasarkan hasil penelitian dari University of Utah. Peneliti mengatakan bahwa anak-anak yang mengalami migrain disertai dengan gangguan visual kemungkinan telah memiliki lubang di jantungnya.

Dalam penelitian ini, dokter AS memeriksa 109 anak berusia di atas 6 tahun yang menderita migrain. Sekitar setengah dari mereka mengalami jenis migrain yang disertai dengan gangguan visual, yang disebut dengan aura cacat jantung (aura had the heart defect), menurut laporan Journal of Pediatrics, seperti dilansir BBC News, Jumat (1/4/2011).

Sejumlah penelitian medis juga telah menemukan bahwa lubang pada jantung yang terjadi saat dewasa atau yang dikenal secara teknis sebagai patent foramen ovale (PFO), berhubungan dengan migrain aura.

Gejala umum migrain aura antara lain gangguan visual saat melihat lampu berkedip atau berkedip, mati rasa, sensasi kesemutan dan berbicara cadel.

Dr Rachel McCandless dan rekan dari University of Utah menggunakan teknik pemindaian yang dikenal sebagai echocardiogram untuk mencari cacat jantung.

"Penelitian kami akan membantu memandu penelitian mendatang tentang masalah yang sulit ini," jelas Dr Rachel McCandless.

Temuan ini dapat memberi pilihan pada dokter untuk mengobati migrain dengan operasi untuk menutup lubang di jantung, ketika terapi migrain lainnya telah gagal.

"Mungkin ada sejumlah penjelasan untuk hubungan ini sehingga perlu dilakukan penelitian lebih lanjut. Setelah kita memahami hubungan secara lebih rinci, kita bisa memberi sinyal peningkatan dalam perawatan pasien," jelas Amy Thompson, perawat jantung senior di British Heart Foundation.


Sumber : http://health.detik.com/read/2011/04/01/133111/1606467/764/migrain-pada-anak-bisa-karena-ada-lubang-di-jantung?l991101755

Senin, 07 Februari 2011

Vaksinasi Bisa Kurangi Risiko Leukemia Pada Anak


img
(Foto: thinkstock)
Texas, Salah satu jenis kanker yang banyak dijumpai pada anak-anak adalah leukemia (kanker darah). Tapi ternyata jenis kanker ini bisa dikurangi risikonya dengan melakukan vaksinasi pada anak-anak.

Temuan yang dipublikasikan dalam The Journal of Pediatricsmenunjukkan bahwa anak-anak yang lahir di negara dengan vaksinasi hepatitis B tinggi memiliki peluang 20 persen lebih rendah terkena semua jenis kanker pada anak.

Selain itu anak-anak yang lahir di negara dengan tingkat vaksinasi tinggi untuk polio dan vaksin penyakit lainnya memiliki kemungkinan 30-40 persen lebih rendah terkena lymphoblastic leukemia akut, yaitu penyakit kanker yang mempengaruhi sel-sel darah putih.

"Untuk mengetahui hubungan yang lebih jelas lagi diperlukan penelitian masa depan. Dan ini bukan berarti anak-anak yang divaksin tidak akan mendapatkan kanker, tapi bisa mengurangi risiko kemungkinan terkena kanker," ujar Dr Michael Scheurer dari Baylor College of Medicine di Houston, Texas, seperti dikutip dari Reuters, Senin (7/2/2011).

Berdasarkan salah satu teori yang ada dari studi sebelumnya menunjukkan beberapa infeksi umum diketahui bisa meningkatkan risiko anak terkena leukemia atau kanker darah, yang diduga karena adanya efek yang timbul saat perkembangan sistem kekebalan tubuh.

Kanker yang umum dijumpai pada anak-anak adalah kanker leukemia (kanker darah), kanker otak, kanker tulang belakang dan juga retinoblastoma (kanker pada retina mata). Meskipun kanker di usia anak-anak terbilang langka, tapi ketika hal itu terjadi justru bisa lebih parah dibandingkan orang dewasa.

Dalam studi ini peneliti menggunakan data semua diagnosa kanker di negara-negara bagian Amerika Serikat. Peneliti mengidentifikasi 2.800 kasus kanker yang didiagnosis tahun 1995-2006. Setelahnya peneliti membandingkan risiko terkena kanker pada anak dengan melihat sejarah vaksinasinya.

Peneliti memfokuskan studinya pada anak-anak yang didiagnosis terkena kanker setelah berusia 2 tahun, yang mana pada usia tersebut umumnya anak-anak telah mendapatkan vaksinasi dengan lengkap.

Scheurer menuturkan orang-orang bisa mendapatkan manfaat yang lebih dengan memberikan vaksinasi, karena tidak hanya bisa mencegah beberapa penyakit menular tapi memberikan manfaat lain dengan mengurangi risiko terkena kanker pada anak-anak.



Sumber : http://health.detik.com/read/2011/02/07/113309/1561383/764/vaksinasi-bisa-kurangi-risiko-leukemia-pada-anak?l991101755

Rabu, 02 Februari 2011

Efek aspirin pada anak

Aspirin yang dikenal sebagai obat pereda nyeri (analgesik), anti-inflamasi (antiperadangan), dan penurun demam (antipiretik) tidak dianjurkan untuk anak-anak. Obat itu menimbulkan sindrom Reye. Hal itu dikatakan dokter spesialis anak dari RSCM, dr Hindra Irawan Satari SpA, dan dari Rumah Sakit Sumber Waras, dr Tatang Kustimansamsi SpA, kepada Pembaruan di Jakarta, Rabu (28/8).

Menurut Hindra, para dokter kini tidak meresepkan aspirin (salisilat) untuk menurunkan demam pada anak-anak. Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA) beberapa waktu lalu merekomendasikan agar aspirin, juga berbagai produk yang mengandung aspirin (asetilsalisilat, asetilsalisilik, asam salisilik), tidak diberikan kepada anak berusia kurang dari 19 tahun.

Aspirin, kata Tatang, bisa merusak fungsi hati (liver) sehingga menimbulkan sindrom Reye. Untuk meredakan nyeri dan menurunkan demam pada anak-anak, saat ini dianjurkan parasetamol (asetaminofen) karena efek sampingnya rendah dan harganya terjangkau.

"Zaman dahulu, aspirin banyak digunakan dan dianggap sebagai obat yang cukup ampuh, tetapi kemudian dilaporkan kejadian sindrom Reye karena aspirin. Parasetamol saat ini menjadi pilihan utama, namun dosisnya juga harus diperhatikan," kata Hindra.

Sindrom Reye

Tatang menyebutkan, sindrom Reye tidak hanya terjadi pada anak-anak, tetapi juga orang dewasa. Sindrom itu disebabkan oleh aspirin dan berbagai virus, seperti virus influenza, virus cacar air, maupun virus yang menyebabkan diare. Organ tubuh yang banyak diserang virus adalah liver dan otak dengan gejala demam tinggi, kejang, tidak sadar, dan diare.

Jika ada orang yang demam, kejang, atau diare secara bergantian sehari sampai dua hari, sebaiknya memeriksakan diri ke pusat pelayanan kesehatan untuk memastikan apakah mengidap sindrom Reye atau hanya demam biasa. Itu bisa diketahui melalui pemeriksaan darah dan biopsi liver.

Pemeriksaan darah secara umum dan fungsi hati tidak sulit dilakukan di Indonesia. Tetapi, pemeriksaan kadar amoniak (NH3) sulit dilakukan karena peralatan yang terbatas. Kadar amoniak yang tinggi di dalam darah membuat seseorang kejang. Sedangkan biopsi liver untuk memastikan sindrom Reye dilakukan bekerja sama dengan pihak Singapura.

"Setiap tahun, ada kasus sindrom Reye meskipun kejadiannya tidak tinggi. Sindrom Reye, jika diobati, bisa sembuh total. Tetapi ada yang sembuh, namun karena otak sudah rusak, lalu timbul kecacatan, misalnya sulit bicara. Yang perlu diketahui, tidak setiap cacar atau influenza menimbulkan sindrom Reye," ujarnya.

Parasetamol

Sementara itu, ahli biokimia dari Universitas Nasional, Dr Ernawati Sinaga Apt, menuturkan beberapa obat untuk anak-anak masih mengandung salisilat.

Aspirin bersifat mengencerkan darah sehingga orang yang mengalami masalah pada saluran cerna (maag) tidak dianjurkan meminumnya, kecuali jika dalam bentuk mikrogranulasi. Aspirin dibalut sehingga tidak pecah di lambung dan diserap di usus. Menurut Sinaga, karena sifatnya mengencerkan darah, aspirin banyak digunakan sebagai obat penyakit jantung koroner dan penyakit rematik.

Demikian juga dengan parasetamol, dipakai untuk terapi rematik. Pemakaian aspirin sebagai obat rematik, ujar Tatang, perlu diawasi. Sedangkan parasetamol tidak dianjurkan bagi orang yang mengalami gangguan fungsi liver. Selain aspirin dan parasetamol, ibuprofen (obat antiradang bersifat nonsteroid) juga dipakai pada anak-anak untuk menurunkan demam dan pereda nyeri.

Untuk anak-anak, dosis parasetamol berkisar 10-15 miligram/kilogram berat badan. Meminum sekaligus lebih dari sepuluh kali dosis yang dianjurkan bisa meracuni (merusak) hati. Parasetamol dapat diberikan secara oral, rektal (dubur), dan pre-obat parenteral (melalui pembuluh darah) yang kerap digunakan pascaoperasi.

Jika diberikan secara oral (tablet dan cairan), obat itu diserap cepat di usus halus dengan bioavailabilitas berkisar 85 sampai 98 persen. Dengan waktu paro tiga sampai empat jam, akumulasi tidak terjadi pada dosis yang dianjurkan.

Oleh karena itu penggunaan aspirin sangat tidak dianjurkan terhadap anak-anak.



Sumber : http://www.smallcrab.com/anak-anak/419-efek-aspirin-pada-anak

Tanda-tanda Anak Cacingan

Cacingan dalam istilah sehari-hari adalah kumpulan gejala gangguan kesehatan akibat adanya cacing parasit di dalam tubuh. Penyebab cacingan yang populer adalah cacing pita, cacing kremi, dan cacing tambang. Biasanya cacing bisa dengan mudah menular.


Pantat gatal, merupakan salah satu gejala untuk jenis cacing Enterobius vermicularis. Pada spesies cacing ini, indung cacing keluar dari lubang anus, biasanya di malam hari ketika kita tidur, dan meletakkan telurnya di daerah peri-anal (sekeliling anus). Dengan menggunakan selotip, contoh telur-telur dapat diambil dan dapat dilihat dengan bantuan mikroskop untuk diagnosa.


Penyakit cacingan sering dianggap sebagai penyakit yang sepele oleh sebagian besar kalangan masyarakat. Padahal penyakit ini bisa menurunkan tingkat kesehatan anak. Di antaranya, menyebabkan anemia, IQ menurun, lemas tak bergairah, ngantuk, malas beraktivitas serta berat badan rendah.


Gejala penyakit cacingan pun akan sulit dideteksi, jika jumlah cacing yang bersarang dalam tubuh masih sedikit.


“Penyakit cacingan memang masih sulit didiagnosis dokter jika jumlah cacingnya sedikit. Biasanya gejala akan timbul jika sudah banyak larva cacing yang bersarang dalam tubuh,” kata Dokter Anak sekaligus Koordinator Indonesia Sehat, Dr. Dani Hendarman Supandji di acara Combantrin Media Event “Aku Bebas cacing Bebas Berkreasi” di FX Lifestyle Mall, Senayan, Jakarta, beberapa waktu lalu.


Cara masuknya cacing ke dalam tubuh pun beraneka ragam. Cacing gelang yang bersarang dalam tubuh dengan jumlah telur infektif 100.000-200.000 perhari biasanya masuk melalui makanan. Untuk cacing cambuk, telur infektif yang ada di dalam tubuh sebanyak 3000-5000 dalam waktu 3-6 minggu biasanya juga masuk lewat makanan.


Sedangkan telur cacing tambang biasanya bisa berkembang dalam tubuh lewat makanan dan kulit. Telur cacing cambuk yang infektif bisanya berjumlah 9000-10.000 dalam waktu 3 hari.


“Berkembangnya penyakit ini juga dipengaruhi banyak faktor mulai dari faktor iklim tropis, kebersihan tubuh, sanitasi lingkungan, sosial ekonomi dan kepadatan penduduk,” katanya.


Oleh karena itu, rentan bagi mereka terkena penyakit cacingan jika tinggal di lingkungan yang tidak bersih. Untuk itu, para ibu khususnya juga perlu mengetahui gejala penyakit cacingan, agar si kecil bisa segera mendapatkan pertolongan dan cacing tidak terlalu lama bersarang. Apa saja gejala cacingan itu :


1. Lesu dan lemas akibat kurang darah (anemia)
Disebabkan oleh cacing tambang, membuat tubuh menjadi lemas kekurangan darah karena dihisap cacing.


2. Berat badan rendah karena kekurangan gizi
Nutrisi yang seharusnya diserap oleh tubuh juga menjadi makanan cacing.


3. Batuk tak sembuh-sembuh
Ada juga cacing yang dapat hidup di paru-paru sehingga menyebabkan batuk yang tak sembuh-sembuh.


4. Nyeri di perut
Cacingan juga dapat menimbulkan sakit perut yang dapat menyebabkan diare.


Dr Dani menekankan, perilaku hidup sehat adalah cara terbaik menghindari cacingan. Karena cacing kebanyakan hidup di tanah maka hindari pula si kecil bermain tanah, sebab bisa saja cacing masuk melalui kuku anak.


“Penting memperhatikan kebersihan kuku anak. Membersihkan dan memotong kuku secara teratur harus dilakukan untuk mencegah cacingan. Minum obat cacing secara rutin tiap 6 bulan sekali bisa membunuh cacing yang bersarang dan gejala awal penyakit cacingan tidak selalu terlihat, makanya periksa dan pastikan anak bebas dari cacing secara rutin,” katanya menegaskan.


Cacingan Juga Menyerang Orang Dewasa


Biasanya cacingan, biasanya menyerang anak dan ternyata cacingan bisa juga menyerang orangtua atau golongan dewasa berusia di atas 20 tahun. Cacing pada orang dewasa disebabkan oleh cacing tambang, sedangkan pada anak-anak cacingan lebih banyak karena cacing gelang dan cacing cambuk.  Dampaknya tentu saja akan menurunkan produktivitas kerja pada orang dewasa.